Untuk Selamanya – Ungu

Intro: F#m A (2x) D

E
Tak pernah aku mengerti

A F#m D
Apa yang kini kurasakan

E F#m
Kegelisahan hatiku saat ini

D E
Ku masih merindukanmu…

A F#m D
Walaupun kini ku t’lah bersamanya

E A
Tak pernah mampu kucoba lupakanmu…

D E
Reff I : Sungguh tak bisa…

A G# F#m
Ku mengganti dirimu dengan dirinya

D
Sungguh tak sanggup…

E A
Aku berpaling dari… mu…

D E
Sungguh tak bisa…

A G# F#m
Ku mencintainya ‘tuk melupakanmu

D
Sungguh tak sanggup…

E A
Aku berpindah dari hatimu…

Int: Bm C#m D A G# – Bm E A F#m – G# – A

D E
Reff I I: Sungguh tak bisa…

A G# F#m
Ku mengganti dirimu dengan dirinya

D
Sungguh tak sanggup…

E A
Aku berpaling dari… mu… woooooo…

D E
Sungguh tak bisa…

A G# F#m
Ku mengganti dirimu dengan dirinya

D
Sungguh tak sanggup…

E A
Aku berpaling dari… mu…

D E
Sungguh tak bisa…

A G# F#m
Ku mencintainya ‘tuk melupakanmu

D
Sungguh tak sanggup…

E A
Aku berpindah dari hatimu…

F#m – G# – A – Bm – C#m – D
Wo wo wooaaa… huuu…

Coda: E A G# F#m D E… A E A

Aku Bukan Pilihan Hatimu

UNGU
Intro: F C E Am

F C
Jika… memang diriku

E Am
Bukanlah menjadi pilihan hatimu

F C
Mungkin… sudah takdirnya

Kau dan aku

E Am
Tak ‘kan mesti bersatu

Interlude: F C E Am

F C
(*) Harus… s’lalu kau tahu

E Am
Ku mencintamu sepanjang waktuku

F C
Harus…. s’lalu kau tahu

E Am
Semua abadi untuk s’lamanya…

F
Reff: Karena ku yakin

C E
Cinta dalam hatiku hanya milikmu

Am
Sampai akhir hidupku

F
Karena ku yakin

C
Di setiap hembus nafasku

E
Hanya dirimu

Am
Satu yang s’lalu ku rindu

Interlude: F C E Am

Kembali ke: (*), Reff

Interlude: F C E Am (2x)

F C
Coda: Jika… memang diriku

E Am
Bukanlah menjadi pilihan hatimu (FO)

Derajat Ahli Waris

Antara ahli waris yang satu dan lainnya ternyata mempunyai perbedaan derajat dan urutan. Berikut ini akan disebutkan berdasarkan urutan dan derajatnya:

Ashhabul furudh. Golongan inilah yang pertama diberi bagian harta warisan. Mereka adalah orang-orang yang telah ditentukan bagiannya dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’.
Ashabat nasabiyah. Setelah ashhabul furudh, barulah ashabat nasabiyah menerima bagian. Ashabat nasabiyah yaitu setiap kerabat (nasab) pewaris yang menerima sisa harta warisan yang telah dibagikan. Bahkan, jika ternyata tidak ada ahli waris lainnya, ia berhak mengambil seluruh harta peninggalan. Misalnya anak laki-laki pewaris, cucu dari anak laki-laki pewaris, saudara kandung pewaris, paman kandung, dan seterusnya.
Penambahan bagi ashhabul furudh sesuai bagian (kecuali suami istri). Apabila harta warisan yang telah dibagikan kepada semua ahli warisnya masih juga tersisa, maka hendaknya diberikan kepada ashhabul furudh masing-masing sesuai dengan bagian yang telah ditentukan. Adapun suami atau istri tidak berhak menerima tambahan bagian dari sisa harta yang ada. Sebab hak waris bagi suami atau istri disebabkan adanya ikatan pernikahan, sedangkan kekerabatan karena nasab lebih utama mendapatkan tambahan dibandingkan lainnya.
Mewariskan kepada kerabat. Yang dimaksud kerabat di sini ialah kerabat pewaris yang masih memiliki kaitan rahim –tidak termasuk ashhabul furudh juga ‘ashabah. Misalnya, paman (saudara ibu), bibi (saudara ibu), bibi (saudara ayah), cucu laki-laki dari anak perempuan, dan cucu perempuan dari anak perempuan. Maka, bila pewaris tidak mempunyai kerabat sebagai ashhabul furudh, tidak pula ‘ashabah, para kerabat yang masih mempunyai ikatan rahim dengannya berhak untuk mendapatkan warisan.
Tambahan hak waris bagi suami atau istri. Bila pewaris tidak mempunyai ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dan ‘ashabah, juga tidak ada kerabat yang memiliki ikatan rahim, maka harta warisan tersebut seluruhnya menjadi milik suami atau istri. Misalnya, seorang suami meninggal tanpa memiliki kerabat yang berhak untuk mewarisinya, maka istri mendapatkan bagian seperempat dari harta warisan yang ditinggalkannya, sedangkan sisanya merupakan tambahan hak warisnya. Dengan demikian, istri memiliki seluruh harta peninggalan suaminya. Begitu juga sebaliknya suami terhadap harta peninggalan istri yang meninggal.
Ashabah karena sebab. Yang dimaksud para ‘ashabah karena sebab ialah orang-orang yang memerdekakan budak (baik budak laki-laki maupun perempuan). Misalnya, seorang bekas budak meninggal dan mempunyai harta warisan, maka orang yang pernah memerdekakannya termasuk salah satu ahli warisnya, dan sebagai ‘ashabah. Tetapi pada masa kini sudah tidak ada lagi.
Orang yang diberi wasiat lebih dari sepertiga harta pewaris. Yang dimaksud di sini ialah orang lain, artinya bukan salah seorang dan ahli waris. Misalnya, seseorang meninggal dan mempunyai sepuluh anak. Sebelum meninggal ia terlebih dahulu memberi wasiat kepada semua atau sebagian anaknya agar memberikan sejumlah hartanya kepada seseorang yang bukan termasuk salah satu ahli warisnya. Bahkan mazhab Hanafi dan Hambali berpendapat boleh memberikan seluruh harta pewaris bila memang wasiatnya demikian.
Baitulmal (kas negara). Apabila seseorang yang meninggal tidak mempunyai ahli waris ataupun kerabat –seperti yang saya jelaskan– maka seluruh harta peninggalannya diserahkan kepada baitulmal untuk kemaslahatan umum.

Sholat Mata terpejam

Banyak diantara umat muslim saat ini yang masih sering memejamkan mata ketika sholat, umumnya mereka beralasan bahwa dengan memejamkan mata akan meningkatkan konsentrasi atau lebih khusu’ dalam melaksanakan sholat. Bahkan dapat membayangkan dan menangisi dosa-dosa yang pernah diperbuatnya. Dan ada diantara mereka yang juga ada yang hanya membaca bacaan sholat didalam hati dengan maksud lebih mendukung dan menghayati sholatnya. Sebagai seorang muslim yang selalu mencari keutamaan dan kebenaran, tentunya kita lebih mendahulukan Ilmu sebelum memutuskan atau melaksanakan suatu perkara. Sehingga apa yang kita amalkan seperti sholat, tidaklah menjadi suatu hal yang sia-sia apalagi dosa karena telah menyelisihi Syariat Islam. Untuk itu marilah kita pelajari dan amalkan fatwa dari Asy-Syaikh Muhammad Ibnu Utsaimin dalam kitabnya As Syarhul Mumti’ 4/52 yang membahas tentang perkara-perkara seperti yang dijelaskan diatas.

Pendapat yang shohih hukumnya makruh, karena menyerupai perbuatan orang Majusi saat mereka mengibadati api, dimana mereka memejamkan mata mereka. Dan dikatakan juga, perbuatan itu termasuk perbuatan orang Yahudi. Menyerupai perbuatan non Muslim sekurang-kurangnya adalah haram, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Maka memejamkan mata dalam sholat sekurang-kurangnya menjadi makruh, kecuali jika ada faktor penyebabnya, seperti sekelilingnya terdapat hal yang menyibukkannya (mengganggunya) bila ia membuka kedua matanya, maka pada saat itu ia memejamkan kedua matanya untuk menjauhi faktor yang merusak.

Jika ada orang yang mengatakan: saya mendapatkan diri saya lebih khusu’ kalau seandainya kedua mata dipejamkan, apakah antum akan menfatwakan agar saya memejamkan kedua mata? Jawabnya: TIDAK, karena kekhusukan ini, dimana antum mendapatkannya dengan mengerjakan hal-hal yang makruh datangnya dari syaitan, hal itu seperti khusu’nya kaum sufi dalam membaca zikir-zikir mereka yang mereka jadikan ibadah, sementara perbuatan itu adalah bid’ah (tidak dikenal dalam ajaran Islam). Terkadang syaita akan menjauh dari hati antum bila antum memejamkan kedua mata antum, lalu ia tidak mengganggu, supaya syaitan itu memperdayai atau menjatuhkan antum untuk berbuat hal yang makruh. Maka kita katakan: bukalah kedua matamu dan berusahalah untuk khusu’ didalam sholatmu. Adapun memejamkan kedua mata antum untuk khusu’ tanpa ada sebab, maka itu tidak boleh, karena ini dari syaitan.

Perlu kita ketahui bahwa faktor utama untuk mendapatkan sholat khusu’ adalah sholat seperti sholatnya Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam, dan Rasulullah tidak pernah memejamkan matanya, kalau seandainya memejamkan mata itu adalah cara terbaik untuk mendapatkan kekhusu’kan, pastilah Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam telah mengajarkannya kepada kita.

Adapun masalah membaca dalam hati, itu menyelisihi sunnah, karena membaca itu adalah dengan menggerakkan bibir dan mendengarkan bacaan itu untuk diri kita sendiri. Inilah makna membaca menurut bahasa Arab, maka sholatnya dibagi dua yaitu jahriyah dan sirriyah. Jahriyah adalah dengan mengeraskan suara, adapun Sirriyah adalah dengan melunakkan suara, dimana yang mendengarkan itu adalah kita sendirai, tentunya dengan menggerakkan bibir.

Adapun yang telah antum perbuat, InsyaAllah sholat antum sah dan diterima Alloh Ta’ala, karena anda tidak mengetahui hukumnya, adapun setelah ini, janganlah mengulangi perbuatan tersebut. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kita sholat yang khusu’ dan menerima seluruh ibadah kita. amiin. Wallahu ‘Alam

MediaMuslim.Info

Takbir

Takbiratul Ihram —> ALLAAHU AKBAR (Allah Maha Besar)

Allaahu akbar kabiira, walhamdulillaahi katsiira, wa subhanallaahi bukrataw, waashiila.
(Allah Maha Besar, dan Segala Puji yang sangat banyak bagi Allah, dan Maha Suci Allah sepanjang pagi, dan petang).

Innii wajjahtu wajhiya, lillazii fatharassamaawaati walardha, haniifam, muslimaa, wamaa ana minal musrykiin.
(Sungguh aku hadapkan wajahku kepada wajahMu, yang telah menciptakan langit dan bumi, dengan penuh kelurusan, dan penyerahan diri, dan aku tidak termasuk orang-orang yang mempersekutuan Engkau/Musryik)

Innasshalaatii, wa nusukii, wa mahyaaya, wa mamaati, lillaahi rabbil ‘aalamiin.
(Sesungguhnya shalatku, dan ibadah qurbanku, dan hidupku, dan matiku, hanya untuk Allaah Rabb Semesta Alam).

Laa syariikalahu, wabidzaalika umirtu, wa ana minal muslimiin.
(Tidak akan aku menduakan Engkau, dan memang aku diperintahkan seperti itu, dan aku termasuk golongan hamba yang berserah diri kepadaMu)

Adapun Rasulullaah ketika membaca surah Al-Faatihah senantiasa satu napas per satu ayatnya, tidak terburu-buru, dan benar-benar memaknainya. Surah ini memiliki khasiat yang sangat tinggi sekali. Bahkan Ibn Qayyim Al-Jauziyyah sampai menuliskan makna iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin, dalam satu kitabnya yang berjudul Madarijus Saalikin, dimana beliau bercerita ketika di suatu kota ia menderita sakit, maka ia membacanya per ayat dengan sungguh-sungguh, dan ia rasakan bahwa setiap selesai satu ayat dibacanya, terasa berguguran sakit yang dirasakannya. Subhaanallaah.

Mari kita hafal terlebih dahulu arti per ayatnya sebelum kita memaknainya.

Bismillaah, arrahmaan, arrahiim (Bismillaahirrahmaanirrahiim)
(Dengan nama Allaah, Maha Pengasih, Maha Penyayang)

Alhamdulillaah, Rabbil ‘aalamiin
(Segala puji hanya milik Allaah, Rabb semesta ‘alam)

Arrahmaan, Arrahiim
(Maha Pengasih, Maha Penyayang)

Maaliki, yaumiddiin
(Penguasa, Hari Pembalasan/Hari Tempat Kembali)

Iyyaaka, na’budu, wa iyyaaka, nasta’iin
(KepadaMulah, kami menyembah, dan kepadaMulah, kami mohon pertolongan)

Ihdina, asshiraathal, mustaqiim —> berharaplah dengan penuh harap ketika membacanya.
(Tunjuki kami, jalan, golongan orang-orang yang lurus)

Shiraath, alladziina, an’am, ta ‘alayhim
(Jalan, yang, telah Engkau beri ni’mat, kepada mereka)

Ghayril maghduubi ‘alaihim, wa laddhaaaalliiin.
(Bukan/Selain, (jalan) orang-orang yang telah Engkau murkai, dan bukan (jalan) orang-orang yang sesat)

Melanjutkan tulisan yang ketiga, maka setelah membaca Surah Al-Faatihah, maka hendaknya kita membaca ayat-ayat Al-Qur’an.

Ruku’

Lalu ruku’, dimana ketika ruku’ ini beliau mengucapkan bermacam-macam dzikir dan do’a. Kadangkala beliau mengucapkan yang ini dan kadangkala mengucapkan yang itu :

1. Subhaana, rabbiyal, ‘adzhiimi.
(Maha Suci, Tuhanku, Yang Maha Agung)
—> dzikir ini diucapkan beliau sebanyak tiga kali.
(Hadits riwayat Ahmad, Abu Daud, Ibn Majah, Ad-Daaruquthni, Al-Bazaar, dan Ath-Thabarani)
—> kadangkala juga beliau membacanya berulang-ulang lebih banyak dari tiga kali, dan sesekali beliau
berlebihan dalam mengulanginya ketika shalat lail (malam), sehingga lama ruku’nya hampir mendekati
lama berdirinya.

2. Subbuuhun, qudduus, rabbul malaaikati, warruuh.
(Maha Suci Engkau ya Allaah, Pemberi berkah, Tuhan malaikat, dan ruh) –> Riwayat Muslim

3. Allaahumma, laka raka’at, wa aamantu, wa laka aslamtu,
(Yaa Allaah, kepadaMu, kuserahkan ruku’ku, kepadaMu aku beriman, kepadaMu aku Islam (menyerahkan diri).)
anta rabbiiy, khasa’a laka sam’iiy, wa bashariy, wa mukhyii, wa ‘adzhomii, wa fii riwaayah
(Engkau Tuhanku, KepadaMulah pendengaran, penglihatan, otak, tulang, dan syarafku tunduk)
wa mastaqallat bihi, qadamii, lillaah, rabbil ‘aalamiin.
(Dan apa yang dibawa kakiku, kuserahkan, kepada Allaah, Tuhan semesta alam)
(HR. Ad-Dharuquthni)

Memperpanjang Ruku’
Diriwayatkan bahwa :

“Rasulullaah Sallallaahu ‘alayhi wa sallaam, menjadikan ruku’nya, dan bangkitnya dari ruku’, sujudnya, dan duduknya di antara dua sujud hampir sama lamanya.”

(Hadits Shahih Riwayat Imam Bukhari dan Muslim)

I’tidal
Rasululullaah Sallaahu ‘alayhi wa sallaam mengangkat punggungnya dari ruku’ sambil mengucapkan,
“Mudah-mudahan Allah mendengarkan (memperhatikan) orang yang memujiNya”.
(Hadits diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim)

Maka ketika kita i’tidal atau bangkit dari ruku, sambil mengangkat kedua tangan sejajar bahu ataupun sejajar telinga, maka kita mengucapkan :

Sami’allaahu, li, man, hamida, hu
(Mudah-mudahan mendengar Allah, kepada, sesiapa yang, memuji, Nya)

“Sesungguhnya imam itu dijadikan hanya untuk diikuti. Oleh karena itu, apabila ia mengucapkan “sami’allaahu liman hamidah”, maka ucapkanlah “rabbanaa lakal hamdu”, niscaya Allah memperhatikan kamu. Karena Allah yang bertambah-tambahlah berkahNya, dan bertambah-tambahlah keluhuranNya telah berfirman melalui lisan NabiNya saw., “Mudah-mudahan Allah mendengarkan (memperhatikan) orang yang memujiNya”.
(Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Ahmad, dan Abu Daud)

Maka mari kita baca :
Rabbanaa, lakal, hamdu
(Yaa Tuhan kami, bagiMulah, segala puji)

Kadangkala lafadzh diatas beliau tambahkan seperti :
mil assamaawaati, wa mil al ardhi, wa mil a maa shikta, min shai in, ba’du
(Sepenuh langit, dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki, dari sesuatu, sesudahnya)
Kalimat diatas didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu ‘Uwanah)

Sujud
Ketika kita sujud, maka dengan tenang hendaknya kita mengucapkan do’a-do’a sujud seperti yang telah dicontohkan Rasulullaah Sallallaahu ‘alayhi wa sallaam.

1. Subhaana, rabbiyal, a’laa
(Maha Suci, Tuhanku, Yang Maha Luhur)
Dzikir ini beliau ucapkan sebanyak tiga kali, dan kadangkala beliau mengulang-ulanginya lebih daripada itu.

2. Subhaana, rabbiyal, a’laa, wa, bihamdi, hi
(Maha Suci, Tuhanku, Yang Maha Luhur, dan, aku memuji, Nya)

3. Subbuuhun, qudduusun, rabbul malaaikati, warruuh
(Maha Suci, Pemberi Berkat, Tuhan malaikat, dan ruh)

Duduk antara dua Sujud
Ketika kita bangun dari sujud, maka hendaklah kita berdo’a sepertinya do’anya Rasulullaah, dan bacalah do’a tersebuh dengan sungguh-sungguh, perlahan-lahan, dan penuh pengharapan kepada Allah Subhaana wa Ta’ala.

Di dalam duduk ini, Rasulullaah Sallallaahu ‘alayhi wa sallaam mengucapkan :
Allaahummaghfirlii, warhamnii, wajburnii, warfa’nii, wahdinii, wa ‘aafinii, warzuqnii
(Ya Allaah ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah kekuranganku, sehatkanlah aku, dan berilah rizqi kepadaku)

Dari Hadits yang diriwayatkan Muslim, bahwa Rasulullaah saw, kadangkala duduk tegak di atas kedua tumit dan dada kedua kakinya. Beliau juga memanjangkan posisi ini sehingga hampir mendekati lama sujudnya (Al-Bukhari dan Muslim).

Duduk At-Tasyaahud Awal
01. Sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari, Muslim, dan Ibnu Abi Syaibah.
Dari Ibn Mas’ud berkata, Rasulullaah saw telah mengajarkan at-tasyaahud kepadaku, dan kedua telapak tanganku (berada) di antara kedua telapak tangan beliau – sebagaimana beliau mengajarkan surat dari Al-Qur’an kepadaku : —> (Mari dihafalkan setiap katanya sehingga shalat kita lebih mudah untuk khusyuk)

Attahiyyaatulillaah, wasshalawatu, watthayyibaat.
Segala ucapan selamat adalah bagi Allaah, dan kebahagiaan, dan kebaikan.

Assalaamu ‘alayka * , ayyuhannabiyyu, warahmatullaah, wa barakaatuh.
Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepadamu *, wahai Nabi, dan beserta rahmat Allaah, dan berkatNya.

Assalaamu ‘alaynaa, wa ‘alaa, ‘ibaadillaahisshaalihiiin.
Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada kami pula, dan kepada sekalian hamba-hambanya yang shaleh.

Asyhadu, allaa, ilaaha, illallaah.
Aku bersaksi, bahwa tiada, Tuhan, kecuali Allaah.

Wa asyhadu, anna muhammadan, ‘abduhu, wa rasuluhu.
Dan aku bersaksi, bahwa muhammad, hambaNya, dan RasulNya.

* Hal ini ketika beliah masih hidup, kemudian tatkala beliau wafat, maka para shahabat mengucapkan :
Assalaamu ‘alannabiy.
Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada Nabi.

02. Sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Abu ‘Uwanah, Asy-Syafi’i, dan An-Nasa’i.
Dari Ibnu ‘Abbas berkata, Rasulullaah telah mengajarkan At-Tasyahhud kepada kami sebagaimana mengajarkan surat dari Al-Qur’an kepada kami. Beliau mengucapkan :

Attahiyyaatul mubaarakaatusshalawaatutthayyibaatulillaah.
Assalaamu ‘alayka ayyuhannabiyyu warahmatullaahi wa barakaatuh.
Assalaamu ‘alayna wa ‘alaa ‘ibaadillaahisshaalihiin.
Asyhadu allaa ilaaha illallaah.
Wa asyhadu annaa muhammadarrasuulullaah.
(dalam riwayat lain : Wa asyhadu annaa, muhammadan, ‘abduhu, warasuuluh)
–> Artinya sama dengan yang diatas, insha Allaah.

Bacaan shalawat Nabi di akhir shalat
Rasulullaah saw. mengucapkan shalawat atas dirinya sendiri di dalam tasyahhud pertama dan lainnya. Yang demikian itu beliau syari’atkan kepada umatnya, yakni beliau memerintahkan kepada mereka untuk mengucapkan shalawat atasnya setelah mengucapkan salam kepadanya dan beliau mengajar mereka macam-macam bacaan salawat kepadanya.

Berikut kita ambil sebuah hadits yang sudah umum di kita, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, dan Al-Humaidi, dan Ibnu Mandah.

Allaahumma, shalli ‘alaa muhammad, wa ‘alaa, aali muhammad.
Ya Allaah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada, keluarga Muhammad

Kamaa, shallayta, ‘alaa ibrahiim, wa ‘alaa, aali ibraahiim.
Sebagaimana, Engkau telah memberikan kebahagiaan, kepada Ibrahim, dan kepada, keluarga Ibrahim.

Innaka, hamiidummajiid.
Sesungguhnya Engkau, Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Allaahumma, baarik, ‘alaa muhammad, wa ‘alaa aali muhammad.
Ya Allaah, berikanlah berkah, kepada Muhammad, dan kepada, keluarga Muhammad

Kamaa, baarakta, ‘ala ibraahiim, wa ‘alaa, aali ibraahiiim.
Sebagaimana, Engkau telah memberikan berkah, kepada ibrahim, dan kepada, keluarga Ibrahim.

Innaka, hamiidummajiid.
Sesungguhnya Engkau, Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Cara Mengucapkan Salam
Mari kita simak hadits berikut, yang diriwayatkan oleh Abu Daud, An-Nasa’i, dan Tirmidzi serta dishahihkan olehnya.

“Rasulullaah saw. mengucapkan salam ke sebelah kanannya : Assalaamu ‘alaykum warahmatullaahi wa barakaatuh (Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kamu sekalian serta rahmat Allaah, serta berkatNya), sehingga tampaklah putih pipinya sebelah kanan. Dan ke sebelah kiri beliau mengucapkan : Assalaamu ‘alaykum warahmatullaah (Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kamu sekalian serta rahmat Allaah), sehingga tampaklah putih pipinya yang sebelah kiri.”

Perhatikanlah, bahwa ternyata ucapan kita ketika menoleh ke kanan (salam yang pertama) lebih banyak daripada ucapan kita ketika menoleh ke kiri (salam yang kedua).

Atau dalam riwayat lain, ketika salam yang pertama beliau mengucapkan : Assalaamu ‘alaykum warahmatullaah, dan pada salam yang kedua beliau mengucapkan : Assalaamu ‘alaykum.

Alhamdulillaah, Maha Benar Allaah atas segala FirmanNya. Maka semoga kesebelas artikel ini menjadikan jalan kemudahan bagi kita di dalam usaha kita berusaha khusyuk dan memahami setiap gerakan yang kita lakukan, sehingga benar-benar memiliki ruh dan nilai yang sulit bagi kita untuk menuangkannya dalam kata-kata, karena begitu nikmatnya shalat itu. (SELESAI)

IBADAH

Tugas manusia di dunia adalah ibadah kepada Allah SWT (51:56). Meskipun merupakan tugas, tetapi pelaksanaan ibadah bukan untuk Allah (51 :57), karena Allah tidak memerlukan apa-apa. Ibadah pada dasarnya adalah untuk kebutuhan dan keutamaan manusia itu sendiri.

Ibadah (‘abada : menyembah, mengabdi) merupakan bentuk penghambaan manusia sebagai makhluk kepada Allah Sang Pencipta. Karena penyembahan/pemujaan merupakan fitrah (naluri) manusia, maka ibadah kepada Allah membebaskan manusia dari pemujaan dan pemujaan yang salah dan sesat.

Dalam Islam ibadah memiliki aspek yang sangat luas. Segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah baik berupa perbuatan maupun ucapan, secara lahir atau batin, semua merupakan ibadah. Lawan ibadah adalah ma’syiat.

Ibadah ada dua macam :

1. Ibadah Maghdhah (khusus)
yaitu ibadah yang ditentukan cara dan syaratnya secara detil dan biasanya bersifat ritus. Misalnya : shalat, zakat, puasa, haji, qurban, aqiqah. Ibadah jenis ini tidak banyak jumlahnya.

2. Ibadah ‘Amah (Muamalah)
Yaitu ibadah dalam arti umum, segala perbuatan baik manusia. Ibadah ini tidak ditentukan cara dan syarat secara detil, diserahkan kepada manusia sendiri. Islam hanya memberi perintah/anjuran, dan prisnip-prinsip umum saja. Ibadah dalam arti umum misalnya : menyantuni fakir-miskin, mencari nafkah, bertetangga, bernegara, tolong-menolong, dll.

Sesuatu akan bernilai ibadah, jika memenuhi persyaratan :

1. Iman kepada Allah dan Hari akhir (2 :62). Karenanya amal orang kafir seperti fatamorgana.

2. Didasari niat ikhlas (murni) karena Allah, sebagaimana hadis :

Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. dan bagi segala sesuatu tergantung dari apa yang ia niatkan.

3. Dilakukan sesuai dengan petunjuk Allah.

Untuk ibadah maghdhah : harus sesuai dengan petunjuk Al-Quran dan Hadis, Kreativitas justru dilarang. Sehingga berlaku prinsip ” Segala ssesuatu dilarang, kecuali yang diperintahkan”. Kita dilarang membuat ritus-ritus baru yang tidak ada dasarnya.

Untuk mu’amalah : harus sesuai dengan jiwa dan prinsip prinsip ajaran Islam. Pelaksanaannya justru memerlukan kreativitas manusia. Sehingga berlaku prinsip ” Segala-sesuatu boleh, kecuali yang dilarang”

Ibadah pada dasarnya merupakan pembinaan diri menuju taqwa. (2 :21). Setiap upaya ibadah memiliki pengaruh positif terhadap keimanan, lawanya adalah maksyiat yang berpengaruh negatif terhadap keimanan.

Iman bertambah dan berkurang. Bertambahnya iman dengan ibadah, berkurang karena ma’syiat (Hadis)

Setiap ibadah juga memiliki hikmah/tujuan-tujuan mulia, seperti :

– Shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar (29 : 45)

– Puasa untuk mencapai taqwa (2 :183)

– Zakat untuk mensucikan harta dan jiwa dari sifat kikir dan tamak ( 9: 103)

– Haji sebagai sarana pendidikan untuk menahan diri dari perkataan dan perbuatan kotor. ( 2;197)

Selain itu juga memiliki keluasan dan keutamaan-keutamaan

Hub kami: Co_kuatt@yahoo.com atau
roni_sbs@apakabar.com
atau lihat di web kami: punyaroni.wordpress.com